Budaya di Eswatini

Budaya di Eswatini adalah cara bersama dan terus berubah dalam mengekspresikan identitas, mengatur hubungan, mengingat sejarah, dan berpartisipasi dalam kehidupan komunitas. Budaya menghubungkan tahapan kehidupan, sejarah, seni, agama, bahasa, tradisi, dan kehidupan bersama. Praktiknya berbeda menurut wilayah, keluarga, keyakinan, usia, lingkungan pedesaan atau perkotaan, serta otoritas komunitas yang terkait.

Saran

Perlakukan budaya di Eswatini sebagai sesuatu yang bergantung pada konteks, bukan sebagai satu rangkaian aturan yang seragam. Kenali komunitas, lingkungan, otoritas terkait, bahasa, dan perilaku yang diharapkan sebelum mengikuti upacara, menggunakan layanan, atau menyelesaikan persoalan setempat. Hal ini mengurangi kesalahpahaman yang dapat dihindari tanpa menganggap bahwa satu keluarga, wilayah, atau komunitas keagamaan mewakili seluruh negara.

Tahap kehidupan

Tahapan kehidupan di Eswatini dipengaruhi usia, pendidikan, pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, kebutuhan perawatan, dan akses ke dukungan publik atau komunitas. Masa kanak-kanak umumnya mencakup orang berusia di bawah 18 tahun, kebijakan pemuda mencakup usia 15–35 tahun, dan orang lanjut usia umumnya berusia 60 tahun ke atas. Peralihan penting mencakup pencatatan kelahiran, perawatan awal, sekolah, pelatihan keterampilan, pekerjaan, pembentukan keluarga, pensiun, dan dukungan di usia lanjut. Kemiskinan, jarak di daerah pedesaan, disabilitas, yatim piatu, kehamilan, pengangguran, dan perpisahan keluarga dapat mengganggu peralihan ini.

Sejarah

Sejarah Eswatini menelusuri perkembangan masyarakat, wilayah, lembaga, dan identitas nasionalnya sejak aktivitas manusia paling awal hingga masa kini. Cakupannya meliputi bukti arkeologis, silsilah lisan, catatan kolonial, pembentukan kerajaan modern, kemerdekaan pada 1968, serta perdebatan berkelanjutan mengenai tanah, kekuasaan, dan ingatan sejarah. Empat wilayah negara ini—Hhohho, Manzini, Lubombo, dan Shiselweni—memiliki peran tersendiri dalam perkembangan tersebut.

Seni

Seni di Eswatini mencakup seni rupa, kerajinan, musik, sastra, film, tari, teater, fotografi, desain, karya warisan budaya, dan produksi digital. Sektor ini terfragmentasi: Dewan Seni dan Budaya Nasional Eswatini (Eswatini National Council of Arts and Culture/ENCAC) mengoordinasikan dukungan, dokumentasi, promosi, dan pengembangan seniman, sementara sekolah, pusat regional, asosiasi, festival, museum, dan penyedia swasta turut mendukung praktik dan akses. Peluang, pendanaan, peralatan, dan pelatihan profesional sangat berbeda menurut bentuk seni dan institusinya.

agama

Agama di Eswatini didominasi oleh Kekristenan; sensus 2017 mencatat 89,25% penduduk beragama Kristen dan 7,40% tidak beragama. Komunitas Zionis, Evangelikal, dan Pentakosta tersebar luas, sedangkan komunitas Muslim, Hindu, Yahudi, Baháʼí, Rastafari, dan agama adat lebih kecil. Konstitusi melindungi kebebasan berpikir, hati nurani, agama, dan ibadah, tetapi kehidupan publik, sekolah, dan hari libur resmi tetap sangat dipengaruhi Kekristenan.

Bahasa

Eswatini memiliki dua bahasa resmi, siSwati, yang juga ditulis Siswati, dan bahasa Inggris. siSwati mendominasi kehidupan sehari-hari, ekspresi budaya, dan identitas nasional, sedangkan bahasa Inggris berperan penting dalam administrasi, pendidikan, bisnis, dan kegiatan internasional. Kedua bahasa digunakan di Parlemen, tetapi tidak ada ketentuan umum yang mewajibkan setiap undang-undang atau layanan publik tersedia dalam kedua bahasa.

Tradisi

Tradisi di Eswatini adalah praktik warisan yang diturunkan secara sosial dan terkait dengan upacara tahunan, acara keluarga, agama, pakaian, musik, kerajinan, serta kehidupan regional. Incwala, Umhlanga, dan Buganu merupakan upacara publik yang terkenal, sedangkan adat perkawinan, berkabung, dan keluarga sering diselenggarakan melalui homestead, chiefdom, gereja, dan keluarga besar. Partisipasi, pakaian, waktu, dan akses bergantung pada upacara, masyarakat, serta arahan otoritas terkait.

Koeksistensi

Kehidupan sehari-hari bersama di Eswatini dibentuk oleh struktur adat setempat, administrasi regional, dan otoritas perkotaan, bukan oleh satu kantor nasional yang menangani kehidupan bersama. Chiefdom dan Tinkhundla menjadi saluran kontak lokal di wilayah pedesaan dan pinggiran kota, sedangkan Town Board, Town Council, dan Municipal Council menangani banyak urusan perkotaan. Hak konstitusional, aturan ketertiban umum, peraturan daerah, dan perundingan praktis sama-sama memengaruhi cara masyarakat berbagi lingkungan dan ruang publik.