Masakan Kreol Seychellois mencerminkan pengaruh Afrika, Prancis, India, dan Tiongkok. Bahan yang umum digunakan mencakup ikan segar atau asin, santan, nasi, lentil, singkong, pisang olah, sukun, ubi jalar, labu, pepaya, mangga, terung, kelor, cabai, jahe, bawang putih, kunyit, masala, daun kari, kayu manis, dan vanila. Metode yang umum meliputi memanggang, membuat kari, sup, semur, mengukus, mengasinkan, mengeringkan, membuat chutney, dan acar. Contohnya antara lain pwason griye, kari zourit, pwason sale, katkat banann, bouyon bred, ladob, rougay, satini, boudin creole, dan gato piman. Kegiatan memasak di rumah, memasak bersama komunitas, makanan jalanan, makanan bawa pulang, serta dapur hotel atau restoran berlangsung berdampingan. Domaine de Val des Près, yang dikenal sebagai Grandma’s Savoir Faire, menawarkan kursus memasak tradisional yang umumnya diadakan dua kali seminggu. Pasokan pangan terkonsentrasi di Mahé dan Victoria, Praslin dan Baie Ste Anne, serta La Digue. Seychelles memiliki lahan pertanian terbatas, biaya produksi tinggi, input impor, serta kerentanan terhadap angkutan barang, mata uang, iklim, dan bencana alam. Karena itu, produksi lokal tidak menggantikan impor. Produk lokal mencakup buah, sayuran, tanaman akar dan umbi, daging babi, unggas, telur, rempah-rempah, dan kelapa. Produk dapat diperoleh melalui pasar, pertanian, hotel, restoran, dan gerai makanan bawa pulang. Victoria Market adalah pasar utama hasil bumi segar dan ikan. Pasar distrik di La Retraite dan Anse Boileau telah dibangun atau dimodernisasi, sedangkan Baie Ste Anne memiliki fasilitas pasar ikan dan sayuran, pengolahan daging, pabrik es, fasilitas pendaratan dan penjualan ikan, serta peningkatan rumah potong hewan. Pasokan langsung ke setiap pulau tidak terdokumentasi, sehingga ketersediaan dapat berbeda tajam menurut pulau, musim, dan jalur angkutan. Ikan merupakan bagian penting dari budaya pangan dan pasokan protein lokal di Seychelles. Perikanan artisanal berbeda dari penangkapan tuna industri dan semiindustri, serta memasok sebagian besar tangkapan yang dikonsumsi secara lokal. Konsumsi ikan yang dilaporkan sekitar 56 hingga 65 kilogram per orang per tahun, dengan kontribusi ikan sekitar 35% hingga 40% dari asupan protein. Ikan demersal dan semi-pelagis, tuna, gurita, lobster, serta ikan pelagis kecil digunakan dalam hidangan dan dijual melalui tempat pendaratan serta pasar. Ikan juga dapat difilet, diasap, dibuat menjadi burger, atau dipotong dadu. Banyak stok ikan demersal dan artisanal telah dieksploitasi penuh atau berlebihan, sehingga batas tangkapan, keterlacakan, penyimpanan dingin, penanganan yang cermat, dan pengurangan kehilangan pascapanen relevan bagi pasokan mendatang. Seychelles Fisheries Authority atau SFA mengelola urusan perikanan dan akuakultur. Proyek akuakultur memerlukan lisensi SFA, standar yang berlaku, dan persetujuan lingkungan; pasar domestiknya terbatas dan sebagian produksi ditujukan untuk ekspor. Perencanaan akuakultur saat ini mencakup keramba ikan bersirip, udang, teripang, bulu babi, dan rumput laut. Akses pangan umumnya melalui pasar biasa, restoran, dan penyedia makanan bawa pulang, bukan sistem penjatahan umum atau hak negara atas penyediaan makanan yang terdokumentasi luas. Harga berbeda menurut pulau, pemasok, musim, angkutan barang impor, biaya energi, permintaan pariwisata, dan nilai tukar SCR terhadap USD. Hidangan hotel dan restoran mewah biasanya jauh lebih mahal daripada makanan pasar dan makanan bawa pulang, tetapi tidak ada rangkaian data harga hidangan standar nasional yang andal untuk mendukung satu angka rata-rata nasional. Pada 2024, perubahan harga pangan tahunan yang dilaporkan mencakup sekitar 3.6% untuk ikan dan 2.4% untuk sayuran, sementara beberapa kategori pangan lainnya menurun. Perkiraan sebelumnya menempatkan biaya pola makan sehat sekitar USD 4 per orang per hari untuk 2017 hingga 2020, dan memperkirakan bahwa 6.8% orang tidak mampu membelinya pada 2019 hingga 2021; angka-angka ini terlalu lama untuk digunakan sebagai harga rumah tangga saat ini. Ketahanan pangan dan gizi melibatkan pertanian, perikanan, kesehatan, pendidikan, dan keuangan. Ikan tetap menjadi sumber protein utama, sedangkan lingkungan pangan, ukuran porsi, mutu produk, makanan sekolah, dan pemasaran produk tidak sehat memengaruhi gizi. Perkiraan obesitas orang dewasa pada 2023/24 sekitar 49% untuk perempuan dan 27% untuk laki-laki berusia 18 hingga 74 tahun. Angka tersebut menggambarkan masalah pada tingkat populasi dan tidak menggantikan saran medis individual. Food Act 2014 menyediakan kerangka utama keamanan pangan. Public Health Authority atau PHA menangani pengawasan pangan, kesehatan lingkungan, inspeksi tempat usaha, kepatuhan lisensi, laboratorium kesehatan masyarakat, dan respons terhadap wabah penyakit bawaan pangan. Penjamah makanan mungkin perlu menjalani validasi dan pemeriksaan kesehatan melalui sistem kesehatan. SFA mengawasi mutu produk ikan, inspeksi higiene, es dan pengendalian rantai dingin, penanganan, pengawetan, serta pengolahan. Seychelles Bureau of Standards dan Food Inspection and Quality Control Unit mendukung standar, pengujian, sertifikasi, dan keterlacakan. Tanggung jawab dibagi di antara beberapa badan, dan kebijakan perikanan mengidentifikasi kebutuhan akan sistem keamanan pangan domestik yang lebih selaras. Penyimpanan yang aman, peralatan bersih, kendali suhu, dan pembersihan pasar setiap hari penting karena kondisi yang terdokumentasi di Victoria Market pada 2023 mencakup risiko higiene, hama, dan pembusukan. Restoran dan kafetaria beroperasi berdasarkan Restaurant Policy 2012, yang menetapkan satu kategori lisensi restoran. Pengelolaan umumnya memerlukan kualifikasi atau pengalaman yang relevan, sedangkan kegiatan alkohol, tembakau, dan bar umum memiliki persyaratan tambahan. Kebijakan pariwisata mendorong masakan Kreol dan internasional. Festival makanan lokal, lokakarya memasak, penawaran langsung dari kebun ke meja, dan kegiatan pangan berbasis komunitas menghubungkan produsen dengan usaha perhotelan; Local Food Fest 2025 melibatkan 11 hotel, restoran, dan penyedia minuman berlisensi, dengan anjuran untuk menggunakan bahan lokal dan menerapkan praktik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Langkah keberlanjutan berfokus pada peningkatan produksi lokal, biosekuriti, kebun rumah, budidaya rumah kaca dan hidroponik, irigasi, pengolahan hasil pertanian, rantai dingin, peningkatan nilai tambah ikan, dan akuakultur yang bertanggung jawab. Sasaran Seychelles Agricultural Agency mencakup produksi 100% telur konsumsi, 50% daging kambing, babi, dan ayam pedaging, serta 80% buah dan sayuran; angka ini merupakan sasaran kebijakan, bukan hasil produksi saat ini. Rencana nasional 2025/30 juga menekankan pertanian terlindungi, sistem pascapanen, dan pengolahan bernilai tambah. Kawasan perlindungan laut, kerentanan terumbu karang, perubahan iklim, pemutihan karang, kenaikan permukaan laut, banjir, salinitas, kekeringan, dan penurunan stok ikan memengaruhi ketahanan pangan jangka panjang. Sumber lokal dapat meningkatkan ketahanan, tetapi impor tetap diperlukan secara praktis.
Makanan di Seychelles
Makanan di Seychelles memadukan masakan Kreol Seychellois, tradisi perikanan yang kuat, hasil bumi lokal, dan ketergantungan besar pada makanan serta bahan impor. Ikan, nasi, kelapa, tanaman umbi, buah, rempah-rempah, dan hidangan berbumbu kari membentuk pola makan sehari-hari, sementara restoran, gerai makanan bawa pulang, pasar, dan hotel melayani beragam tingkat harga. Keamanan pangan, keandalan pasokan, dan keberlanjutan bergantung pada logistik antarpulau, musim, peraturan, serta pemanfaatan sumber daya laut dan pertanian secara bertanggung jawab.
Saran
Perlakukan perencanaan pangan di Seychelles sebagai keputusan kuliner sekaligus keputusan pasokan. Sesuaikan pilihan dengan pulau, musim, penyedia, dan anggaran, serta siapkan alternatif praktis karena impor tetap diperlukan. Utamakan penyedia yang bersih, berlisensi, atau telah diperiksa, dan tangani pangan mudah rusak dengan rantai dingin yang andal.

