Sebagian besar rumah tangga memperoleh makanan melalui pasar dan toko ritel, lalu menyiapkan makanan di rumah. Restoran, penjual makanan, dan tempat makan yang ditujukan bagi wisatawan juga beroperasi, tetapi harga dan kebersihannya berbeda menurut lokasi, waktu, dan usaha. Ikan dan makanan laut lebih berperan di sepanjang pesisir, sedangkan wilayah gurun dan perbatasan menghadapi jarak, kendala air dan pengiriman, serta tekanan terkait pengungsi yang lebih besar. Karena itu, akses makanan tidak seragam di seluruh Libya. Libya sangat bergantung pada pangan impor. Perkiraan FAO untuk 2026 memperkirakan produksi biji-bijian sekitar 150,000 ton, sekitar 20% di bawah rata-rata lima tahun, dan kebutuhan impor untuk 2026/27 sekitar 3.3 juta ton. Gandum mencakup lebih dari 40% dari perkiraan impor biji-bijian, sekitar 1.5 juta ton. Depresiasi dinar, kondisi minyak, ketidakamanan, pengendalian perbatasan, dan logistik semuanya dapat memengaruhi pasokan dan harga rumah tangga. FAO melaporkan inflasi pangan sekitar 18% secara tahunan pada Mei 2026. Keranjang pangan minimum WFP pada Desember 2025 diperkirakan sebesar USD 188.61 di Libya barat, USD 180.81 di timur, USD 171.59 di selatan, dan USD 180.81 di Al Kufra; angka ini menggambarkan waktu dan keranjang tertentu, bukan harga nasional yang stabil. Pola makanan umum mencakup biji-bijian dan semolina, tomat, daging, kacang-kacangan, sayuran, minyak zaitun, kurma, dan produk susu. Contohnya termasuk bazeen (البازين), couscous Libya (الكسكسي), ftat (الفتات), rishda (الرشتة), haraymi (الحرايمي), mbakbaka (المبكبكة), qalaya, shorba (الشوربة), dolma, burak, osban (العصبان), mtabbak (المبطن), mathrouda, dan hidangan makanan laut. Resep dan nama berbeda menurut wilayah dan keluarga. Maqroud, ghoriba, baklava, dan dibla adalah contoh kudapan manis yang disajikan di rumah dan dalam jamuan. Keramahtamahan, jamuan keluarga, dan makanan perayaan penting secara budaya, tetapi Libya tidak termasuk dalam prasasti UNESCO couscous 2020 yang ditinjau untuk Aljazair, Mauritania, Maroko, dan Tunisia. Aturan keamanan pangan mencakup kontaminasi dan residu, tempat usaha pangan, toko roti, rumah pemotongan hewan, dan toko daging. Kementerian Pertanian dan Peternakan, Kementerian Sumber Daya Air, Pusat Nasional Libya untuk Standardisasi dan Metrologi (LNCSM), Pusat Akreditasi Libya (LIBAC), serta badan kesehatan, munisipal, dan lingkungan setempat memiliki tanggung jawab yang berbeda. Struktur keamanan pangan formal tersedia, tetapi kapasitas praktis dan pemeriksaan tidak merata. Periksa mutu air, pendinginan, suhu penyimpanan, kebersihan, kematangan daging dan ikan, serta kondisi makanan di pasar atau restoran. Bukti yang tersedia belum menunjukkan jalur pengaduan konsumen dan pemeriksaan nasional yang jelas. Program gizi ditujukan kepada kelompok tertentu, bukan manfaat pangan universal yang terdokumentasi. WFP dan UNICEF melaporkan perkiraan survei 2022 sebesar 3.8% untuk malnutrisi akut global, 8.2% untuk stunting, dan 5.2% untuk kelebihan berat badan, sambil mencatat keterbatasan basis bukti. Program WFP pada 2025 mencakup pencegahan gizi terarah, bantuan pangan atau transfer nilai, serta program berbasis sekolah. Bantuan mungkin menjangkau pengungsi, pengungsi internal, masyarakat tuan rumah, dan rumah tangga terdampak banjir atau konflik; makanan sekolah terbatas pada sekolah yang berpartisipasi. Produksi pangan juga menghadapi keterbatasan air yang berat. Sumber daya air internal terbarukan diperkirakan sekitar 106 meter kubik per orang per tahun, dan pertanian sangat bergantung pada irigasi serta akuifer. Penurunan akuifer, salinisasi, penggurunan, guncangan iklim, limbah pangan, dan kerugian transportasi memengaruhi pasokan jangka panjang. Pertanian hemat air, diversifikasi tanaman, penguatan rantai nilai perikanan dan biji-bijian, serta perencanaan geografis yang lebih baik disebut sebagai prioritas. MerWat-Libya menyediakan kumpulan data tanaman, cekungan, dan tanah yang mendukung perencanaan ini.
Makanan di Libya
Makanan di Libya memadukan masakan rumahan, pasar lokal, bahan pokok impor, perikanan, peternakan, dan pertanian beririgasi. Pasokan gandum dan biji-bijian lain sangat bergantung pada impor, sementara harga dan ketersediaan berubah mengikuti nilai tukar, konflik, perbatasan, dan transportasi. Masakan Libya lazim menggunakan tomat, semolina, daging, kacang-kacangan, sayuran, zaitun, kurma, dan produk susu; hidangan daerah meliputi bazeen, couscous, shorba, mbakbaka, dan haraymi. Air aman, pendinginan, penanganan daging dan ikan yang cermat, serta pemeriksaan pangan yang dapat diandalkan tetap penting untuk keamanan makanan.
Saran
Perlakukan perencanaan makanan di Libya sebagai keputusan lokal yang peka terhadap waktu: bandingkan harga dan ketersediaan terkini, lalu pilih memasak di rumah, berbelanja di pasar, atau makan di luar sesuai anggaran, akses, dan kondisi keamanan. Bahan pokok impor dan perbedaan wilayah dapat mengubah pilihan praktis dengan cepat. Beri perhatian khusus pada air, pendinginan, penanganan daging dan ikan, serta pastikan bantuan yang tersedia memang ditujukan bagi Anda, bukan menganggap ada manfaat pangan universal.

