Politik di Lesotho

Politik di Lesotho mencakup bagaimana negara konstitusional diatur, bagaimana kewenangan publik dijalankan, dan bagaimana para wakil dipilih. Lesotho adalah monarki konstitusional parlementer: Raja merupakan kepala negara, sedangkan Perdana Menteri dan Kabinet memimpin pemerintahan eksekutif. Pemilihan nasional menggunakan sistem campuran untuk 120 kursi Majelis Nasional, sedangkan pemilihan lokal menggunakan dua surat suara untuk perwakilan komunitas, distrik, dan munisipalitas.

Saran

Mulailah dengan menentukan apakah pertanyaan Anda berkaitan dengan Konstitusi, pemerintahan eksekutif, Parlemen, pengadilan, pemilihan nasional, atau perwakilan lokal. Hal ini mencegah Anda mengharapkan satu lembaga atau satu hasil pemilihan untuk menjelaskan setiap persoalan politik di Lesotho. Pisahkan persoalan nasional dari persoalan komunitas, distrik, dan munisipalitas sebelum menilai tanggung jawab atau perwakilan.

Negara

Negara Lesotho adalah monarki konstitusional parlementer berdasarkan Konstitusi Lesotho, kerangka hukum tertinggi negara itu. Raja adalah kepala negara, sementara Perdana Menteri dan Kabinet menjalankan kewenangan eksekutif; Parlemen membuat undang-undang dan mengawasi pemerintah, sedangkan pengadilan independen menerapkan Konstitusi dan hukum. Kekuasaan publik dijalankan melalui kementerian nasional, 10 distrik, dewan, dan kepemimpinan adat, dengan hak konstitusional, keuangan publik, lembaga pengawasan, dan lembaga keamanan sebagai bagian utama sistem.

Pemilu

Pemilihan umum di Lesotho memilih anggota Majelis Nasional dan menentukan partai atau koalisi mana yang dapat membentuk pemerintahan. Majelis Nasional memiliki 120 kursi: 80 kursi daerah pemilihan dan 40 kursi kompensasi dari daftar partai nasional. Pemilih menggunakan satu surat suara dan satu tanda, yang dihitung oleh Komisi Pemilihan Umum Independen untuk kedua bagian sistem. Pemilihan lokal menggunakan sistem dua surat suara yang berbeda untuk perwakilan masyarakat, distrik, dan munisipalitas.