Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 27,3% produk domestik bruto Guinea, menyediakan sekitar 60% pekerjaan, dan menopang sekitar 80% pendapatan pedesaan. Nasi merupakan makanan pokok utama dan menyumbang kira-kira 40% impor pangan. Jagung, fonio, millet, sorgum, singkong, ubi, talas, dan ubi jalar juga penting, sedangkan ikan, daging, susu, telur, kacang-kacangan, dan kacang tanah merupakan sumber protein yang umum. Mangga, pisang, jeruk, lemon, okra, sayuran berdaun, terung, dan labu banyak digunakan. Minyak sawit atau Tombo, minyak kacang tanah, dan produk shea umum digunakan sebagai lemak serta bahan masak. Pola makanan regional mencerminkan pertanian setempat. Guinea Bawah memiliki tradisi kuat nasi dan jagung; Fouta Djallon dan Guinea Tengah dikaitkan dengan fonio, jagung, dan talas; Guinea Atas dengan singkong dan millet; serta Guinea Hutan dengan singkong dan nasi. Pola ini bersifat historis, bukan aturan tetap, karena nasi kini dimakan di seluruh negeri. Ketersediaan lokal berubah mengikuti musim hujan, yang umumnya berlangsung sekitar Mei hingga Oktober, serta kekeringan, banjir, kerusakan tanaman, dan hama. Produksi serealia mencapai sekitar 5,5 juta ton pada 2024, lebih dari 20% di atas rata-rata lima tahunnya, tetapi impor dan kondisi transportasi tetap memengaruhi akses. Hidangan utama biasanya terdiri dari nasi, jagung, fonio, millet, sorgum, atau umbi dengan saus. Saus dapat berisi daging, ikan, kacang niébé, kacang tanah, daun singkong atau ubi jalar, okra, sayuran, cabai, atau soumbara, pasta bumbu atau kondimen tradisional. Tô adalah hidangan berbahan singkong. Lafidi, Fouti, dan Marakhoulangni adalah nama lokal untuk olahan yang sama. Tobögui menggunakan minyak Tombo dan bikarbonat tradisional. Lathiri dengan Kossan menggabungkan jagung kukus dengan susu sapi; Kossan adalah susu asam atau fermentasi. Paapu adalah bubur serealia. Makanan dan minuman lain yang dikenal meliputi hidangan fonio, hidangan nasi, jus jahe, dan jus buah. Singkong manis dapat langsung dimakan, tetapi singkong pahit perlu direndam atau diolah melalui fermentasi yang disebut rouissage karena dapat mengandung senyawa beracun. Makanan tersedia melalui produksi rumah tangga, pasar lokal, restoran, katering kolektif, dan sektor pangan informal. Restoran formal dan penjual informal melayani bagian populasi yang berbeda, tetapi tidak ada peringkat nasional tepercaya untuk harga atau mutu. Office National de Contrôle Qualité, atau ONCQ, adalah administrasi pengawasan mutu publik di bawah Kementerian Perdagangan, Industri, dan Usaha Kecil dan Menengah. Lembaga ini memeriksa produksi, pengolahan, penjualan, impor, dan ekspor; melakukan analisis mikrobiologi dan fisik-kimia; memeriksa dokumen kesesuaian dan kecurangan; serta dapat mengatur pemusnahan pangan yang tidak layak dikonsumsi. Layanan inspeksi dan karantina BNIQ menangani pengawasan impor dan ekspor yang relevan. Animal Products Code mewajibkan pemeriksaan sanitasi pangan hewani sebelum dilepas untuk dijual. Perusahaan pangan juga memiliki kewajiban kebersihan dan kesesuaian. Sertifikat kesesuaian pangan umumnya diterbitkan setelah pemeriksaan sampel, laboratorium, atau otoritas yang kompeten, lalu penerbitan sertifikat. Perkiraan waktu proses yang tercantum adalah delapan hari, tetapi durasi sebenarnya bergantung pada berkas dan beban kerja institusi; entri layanan tidak mencantumkan biaya. Pengawasan kebersihan dan kampanye ONCQ juga mencakup penjual informal, sekolah, rumah sakit, penjara, hotel, dan katering kolektif. Di rumah, gunakan air aman atau yang telah diolah; pisahkan daging, unggas, dan ikan mentah dari makanan siap santap; cuci peralatan setelah memegang bahan mentah; masak sampai matang; dan jaga sup serta semur pada suhu sekitar 70°C selama dimasak. Jangan biarkan makanan matang pada suhu ruang lebih dari dua jam; simpan bahan mudah rusak sebaiknya di bawah 5°C; jaga makanan matang tetap di atas 60°C saat disajikan panas; cuci buah dan sayuran mentah; tutup makanan; dan jangan gunakan produk kedaluwarsa. Pola makan tradisional berbasis serealia dan umbi, sehingga menambahkan buah, sayuran, kacang-kacangan, telur, daging, ikan, dan susu dapat memperbaiki variasi makanan. Sejak usia enam bulan, makanan pendamping sebaiknya diberikan sambil menyusui tetap dilanjutkan. Bubur yang diperkaya dapat menggabungkan serealia dengan daging atau ikan, minyak atau mentega, kuning telur, dan sayuran. Anak usia enam bulan hingga lima tahun dapat menerima vitamin A gratis setiap enam bulan melalui pusat kesehatan atau kampanye. Selama kehamilan, sayuran berdaun, hati, dan kuning telur menyediakan zat besi, sedangkan garam beryodium mendukung asupan yodium. Kerawanan pangan dan malnutrisi tetap menjadi masalah penting, khususnya bagi anak di bawah lima tahun, ibu hamil dan menyusui, petani kecil pedesaan, dan perempuan. World Food Programme, atau WFP, memberikan bantuan pangan dan transfer tunai bagi orang yang terdampak krisis, perawatan gizi bagi anak usia enam hingga 59 bulan serta ibu hamil atau menyusui, dan makanan sekolah bagi murid prasekolah dan sekolah dasar yang rentan. Sebagian anak perempuan dapat menerima jatah makanan untuk dibawa pulang. Akses bergantung pada kelompok sasaran, krisis, dan program; Guinea tidak memiliki hak pangan umum melalui satu titik layanan pusat. Program makan sekolah nasional masih berkembang. CH dan IPC adalah instrumen pemantauan dan perencanaan, bukan klaim manfaat lokal umum. Harga tidak mengikuti satu daftar harga tetap nasional. Harga berbeda menurut produk, pasar, bulan, musim, dan kondisi transportasi. Perkiraan Bank Dunia melacak harga nasi, fonio, tepung singkong, ikan, daging sapi, kacang-kacangan, jagung, dan minyak di tujuh wilayah subnasional, termasuk Nzérékoré, Boké, Kindia, Kankan, Faranah, Mamou, dan Labé, serta rata-rata pasar. Karena itu, periksa harga lokal di tempat makanan akan dibeli. Acuan historis mencatat inflasi pangan sekitar 7,7% hingga 9% pada 2024 dan 7,1% pada Januari 2025. Program ketahanan pangan mencakup rencana pemerintah melalui Simandou 2040 dan AgriConnect untuk mendukung kedaulatan pangan, petani kecil, input, mekanisasi, pembiayaan, rantai nilai digital, dan pusat pertanian untuk daging, unggas, serta susu. WFP mendukung varietas nasi berkelanjutan dan produksi di 151 desa, pengadaan lokal dari petani kecil dan penggiling nasi lokal, serta Farm2Go. Pekerjaan FAO tentang pengawetan kentang dan fonio menghubungkan metode pengawetan tradisional dengan pendekatan penyimpanan yang lebih baru. Mengurangi kehilangan pascapanen, menyesuaikan produksi terhadap risiko iklim, dan menggunakan sumber daya lokal secara berkelanjutan tetap menjadi perhatian praktis utama.
Makanan di Guinea
Makanan di Guinea berpusat pada nasi, dengan jagung, fonio, millet, sorgum, singkong, ubi, dan talas juga menopang hidangan sehari-hari. Hidangan khas menggabungkan serealia atau umbi dengan saus berisi ikan, daging, kacang-kacangan, kacang tanah, sayuran, atau sayuran berdaun. Ketersediaan dan harga berbeda menurut musim, transportasi, impor, biaya bahan bakar, dan produksi regional.
Saran
Rencanakan makanan berdasarkan bahan pokok yang tersedia dan terjangkau di pasar Guinea terkait, lalu tambahkan kacang-kacangan, sayuran, telur, ikan, daging, atau susu jika memungkinkan. Perlakukan penyimpanan aman dan pemasakan menyeluruh sebagai keharusan, terutama jika pendinginan atau air yang diolah terbatas. Jika Anda menjual atau menyajikan makanan, rencanakan pemeriksaan ONCQ, kemungkinan prosedur BNIQ, dan inspeksi sanitasi untuk pangan hewani.

