Di Brunei, negara memakai Bahasa Melayu (Bahasa Melayu) sebagai basa resminya. Pasal 82 Konstitusi menetapkan bahwa jika versi bahasa berbeda, teks Bahasa Melayu yang diutamakan. Versi bahasa Inggris dari teks hukum tersedia dan bahasa Inggris sangat banyak dipakai dalam lembaga, tetapi status resmi bersama yang setara tidak terdokumentasi. Kamar Jaksa Agung menerjemahkan undang-undang; meskipun demikian, Lembaran Negara 2025 memuat beberapa instrumen hukum tanpa terjemahan Bahasa Melayu. Karena itu, bilingualisme hukum dan praktik tetap tidak seimbang. Rumi, aksara Latin, mendominasi penggunaan tertulis. Jawi, aksara Melayu berbasis Arab, terutama digunakan dalam konteks keagamaan, Adat (praktik adat), dan upacara, serta sebagai ungkapan identitas nasional. Departemen Bahasa dan Sastra, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), mendukung terminologi, penerjemahan, leksikografi, dan Jawi. Bersama Melayu Islam Beraja (MIB), kebijakan bahasa dan aksara ini merupakan bagian dari cara negara menampilkan budayanya. Penduduk memakai bahasa selain Bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Sumber resmi menyebut tujuh kelompok Melayu pribumi: Brunei, Kedayan, Belait, Tutong, Bisaya, Murut, dan Dusun. Namun, kelompok etnis tidak otomatis merupakan kelompok bahasa tersendiri. Ada pula bahasa Cina dan berbagai ragam bahasa Cina, bahasa India, serta bahasa pribumi Borneo; bergantung pada komunitasnya, orang memakai Iban, Hindi, atau Tamil, antara lain. Bahasa-bahasa ini terutama digunakan dalam komunitas dan tidak dapat disamakan dengan kedudukan Bahasa Melayu di negara. Sensus 2021 melaporkan tingkat melek huruf sebesar 96.5 persen pada penduduk berusia sembilan tahun ke atas. Kombinasi bahasa yang dilaporkan mencakup, antara lain, hanya Bahasa Melayu sebesar 16.8 persen, hanya bahasa Inggris sebesar 1.7 persen, hanya bahasa Cina sebesar 0.9 persen, Bahasa Melayu dan bahasa Inggris sebesar 56.5 persen, serta Bahasa Melayu, bahasa Cina, dan bahasa Inggris sebesar 6.0 persen. Angka-angka ini menggambarkan kombinasi bahasa dan literasi, bukan ukuran lengkap kemahiran bahasa secara umum. Angka resmi terkini mengenai penutur setiap bahasa dan statistik bahasa yang andal menurut distrik tidak tersedia. Bahasa Melayu menjadi acuan utama dalam prosedur negara. Konsultasi Dewan Negara berlangsung dalam Bahasa Melayu; bahasa Inggris dapat dipakai dengan izin ketua. Juru bahasa dapat disediakan bagi anggota yang tidak berbicara Bahasa Melayu, dan versi teks resmi dalam bahasa Inggris harus disediakan. Portal pemerintah dan lembaga sering tersedia dalam Bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Tidak terdokumentasi kewajiban hukum umum untuk menyediakan bantuan bahasa perorangan, maupun aturan biaya dan tenggat yang seragam untuk pilihan bahasa; penerjemahan dan penjurubahasaan bergantung pada prosedur tertentu. Di bawah SPN21, sistem pendidikan memakai bahasa Inggris untuk banyak mata pelajaran. Pengecualiannya mencakup Bahasa Melayu, Pengetahuan Ugama Islam, dan Melayu Islam Beraja. Perintah Pendidikan menetapkan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tambahan. Sekolah Arab dapat memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantar untuk bidang tertentu, tetapi juga harus memperhitungkan Bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Rincian ini menjelaskan penggunaan bahasa oleh lembaga, bukan topik pembelajaran bahasa tersendiri. Kemultibahasaan juga tampak dalam siaran. RTB Pilihan FM mengudara sepanjang waktu dalam bahasa Inggris, lalu menawarkan konten dalam bahasa Mandarin dan Nepali. Pelangi FM memakai bahasa Inggris dan Bahasa Melayu, sedangkan Nasional FM menyiarkan informasi terkini serta program tentang komunitas, agama, dan budaya. DBP dan Kementerian Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, KKBS, mendukung bahasa, sastra, dan budaya; Bulan Bahasa berlangsung setiap Juli dan melibatkan lembaga pemerintah serta masyarakat. Bahasa Melayu sangat penting bagi rasa memiliki terhadap negara, upacara, dan identitas nasional, sedangkan bahasa Inggris penting untuk bisnis, sains, akses internasional, dan banyak hubungan dengan lembaga.
Bahasa di Brunei
Bahasa Melayu adalah basa resmi Brunei dan membentuk negara, upacara, serta identitas nasional. Bahasa Inggris banyak dipakai dalam pendidikan, administrasi, bisnis, sains, dan media, tetapi status yang setara sebagai basa resmi kedua tidak terdokumentasi. Bahasa Cina, bahasa pribumi Borneo, dan bahasa komunitas lainnya melengkapi lanskap kebahasaan bilingual ini.
Tip
Pilih bahasa di Brunei sesuai tujuan dan lembaga yang bertanggung jawab: Bahasa Melayu adalah acuan paling aman untuk urusan negara dan upacara, sedangkan bahasa Inggris memudahkan banyak hubungan pendidikan, bisnis, dan internasional. Untuk prosedur resmi, jangan otomatis mengandalkan versi bahasa Inggris atau juru bahasa; pastikan aturan bahasa yang berlaku untuk prosedur itu terlebih dahulu.

