Gandum adalah makanan pokok utama Afghanistan, yang umum dimakan sebagai roti pipih (naan), sementara nasi, jagung, jelai, sayuran, buah, kacang-kacangan, produk susu, daging, dan telur menyediakan makanan tambahan. Hidangan umum meliputi nasi palau Kabul (qabili palau) dengan nasi, daging, wortel, dan kismis; qorma, yaitu semur; pangsit Afghanistan (mantu); pangsit berisi sayuran (ashak); roti isi Afghanistan (bolani); kebab; sup shorwa; shola, yaitu hidangan nasi yang lembut; firni; shir berenj; teh hijau atau hitam; dan minuman yoghurt encer (dogh). Resep dan bahan berbeda menurut wilayah dan musim. Roti jagung terutama dikaitkan dengan daerah penghasil jagung di Afghanistan bagian timur dan selatan, sementara nasi sangat umum di kota-kota dan rumah tangga dengan daya beli lebih besar. Wilayah seperti Herat, Baghlan, Kunduz, Nangarhar, dan Laghman dikenal sebagai penghasil beras, Bamyan memiliki mata pencaharian berbasis kentang, dan daerah Arghandab di Kandahar dikenal karena buah delima. Contoh-contoh ini tidak mewakili satu masakan nasional yang seragam. Makanan keluarga yang umum dapat memadukan roti gandum dengan sup atau semur. Hidangan nasi sering membutuhkan lebih banyak sumber daya, sementara resep daerah berubah ketika bahan menjadi mahal atau tidak tersedia. Pasar, bazar, kedai teh, restoran, dan pedagang kaki lima menyediakan makanan di luar rumah, terutama di daerah perkotaan. Harga dan kebersihan sangat berbeda antara lokasi dan penyedia, dan tidak ada daftar harga restoran nasional yang andal dan berlaku untuk setiap tempat. Teh dan makanan yang dibagikan juga merupakan bagian dari keramahtamahan, tetapi praktik keramahtamahan tidak menghilangkan perbedaan dalam keterjangkauan atau akses. Sistem pangan formal mencakup Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan (Ministry of Public Health), Otoritas Pangan dan Obat Afghanistan (Afghanistan Food and Drug Authority), Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan (Ministry of Agriculture, Irrigation and Livestock), serta Komite Codex Nasional (National Codex Committee). Koordinasi dan standar masih dikembangkan. Konsumen berhak mendapatkan makanan yang aman, bersih, halal, dan bermutu sesuai. Makanan impor harus masuk melalui jalur yang memiliki izin resmi; impor ilegal dapat disita atau dimusnahkan dan dapat menimbulkan sanksi hukum. Di rumah atau tempat usaha makanan, gunakan tangan dan air yang bersih, pisahkan makanan mentah dan matang, masak makanan hingga matang sempurna setidaknya pada suhu 70°C, simpan makanan dingin di bawah 5°C dan makanan panas di atas 60°C. Susu mentah, makanan siap santap yang tidak didinginkan, dan makanan mentah yang tidak aman memiliki risiko lebih tinggi. Pedoman pola makan berbasis pangan Afghanistan merekomendasikan keragaman dari tujuh kelompok makanan, termasuk buah dan sayuran, daging tanpa lemak, unggas, ikan, telur, dan produk susu, sambil membatasi gula berlebih, minuman ringan, garam, lemak, dan makanan yang sangat diproses. Bayi sebaiknya mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama jika memungkinkan, makanan pendamping mulai usia enam bulan, dan terus menyusu hingga usia 24 bulan. Anak usia 6 hingga 23 bulan membutuhkan makanan dari sedikitnya lima dari delapan kelompok makanan setiap hari untuk mencapai keragaman makanan minimum. Pada 2025, diperkirakan sekitar 90% anak berusia di bawah dua tahun hidup dalam kemiskinan pangan anak, sekitar setengahnya mengalami kemiskinan pangan berat, dan sekitar 3,5 juta anak kecil terdampak kekurusan akut. Akses pangan bergantung pada pendapatan rumah tangga, jarak ke pasar, musim, keamanan, dan guncangan yang memengaruhi impor, panen, atau ternak. Analisis Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) memperkirakan 17,4 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat Krisis atau lebih buruk dari November 2025 hingga Maret 2026; perkiraan terkait untuk April hingga September 2026 adalah 13,8 juta orang. Bantuan pangan dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi nonpemerintah, dan mitra lokal dapat menyediakan makanan, uang tunai, voucer, atau dukungan gizi, tetapi bantuan bergantung pada kebutuhan, kerentanan, guncangan, pendanaan, dan kondisi setempat, bukan menciptakan hak individual umum. Program First Foods Afghanistan untuk 2025 hingga 2028 menargetkan 1,7 juta anak di seluruh 34 provinsi melalui makanan pendamping lokal, hasil produksi lokal, makanan yang diperkaya, produksi lokal, dan bubuk mikronutrien. Dukungan uang tunai WFP berjalan di tempat pasar berfungsi dan rumah tangga tidak memiliki daya beli yang cukup. Panen gandum 2025 diperkirakan sekitar 4,5 juta ton, tetapi kebutuhan impor serealia untuk 2025/26 diperkirakan sekitar 3,7 juta ton, terutama tepung gandum. Harga eceran tepung gandum lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya hingga November 2025, dengan variasi regional, bulanan, dan musiman yang besar. Gandum musim dingin umumnya ditanam hingga November, sedangkan tanaman musim semi dan musim panas mulai ditanam sekitar Maret atau Mei, bergantung pada tanaman dan lokasinya. Kekeringan, curah hujan rendah, pencairan salju yang menurun, panas, tekanan terhadap air tanah, penggurunan, dan kehilangan irigasi memengaruhi tanaman maupun ternak. Wilayah utara, barat laut, dan timur laut sangat sensitif terhadap kondisi kekeringan dan irigasi. Rehabilitasi kanal, pemanenan air, bendungan pengendali, benih dan irigasi cerdas iklim, perlindungan ternak, diversifikasi tanaman, dan penyimpanan yang lebih baik dapat memperkuat ketahanan pangan. Kehilangan pascapanen secara tradisional tetap tinggi; satu perkiraan kebijakan menempatkan kehilangan serealia setelah panen sekitar 15%.
Makanan di Afghanistan
Makanan di Afghanistan memadukan roti gandum, nasi, produk susu, daging, sayuran, buah, dan hidangan yang disiapkan secara lokal. Akses dan harga berbeda menurut pendapatan, wilayah, musim, keamanan, impor, dan kekeringan. Memasak, keramahtamahan, dan makan di luar rumah berkaitan erat dengan sumber daya rumah tangga dan ketersediaan setempat, sementara keamanan pangan dan gizi anak tetap menjadi perhatian utama.
Saran
Rencanakan makanan dan pengeluaran berdasarkan bahan yang tersedia secara lokal, sambil menjadikan air, penyimpanan, suhu memasak, dan kebersihan penjual sebagai pemeriksaan keamanan utama. Jika pendapatan, kekeringan, akses pasar, atau kebutuhan gizi anak menimbulkan kekurangan, gunakan program dukungan atau gizi setempat yang relevan jika persyaratan dan kondisi operasional memungkinkan.

